Di tengah banyaknya game Roblox yang cenderung fun, santai, dan penuh warna, muncul satu judul yang langsung bikin bulu kuduk berdiri: 99 Nights in the Forest. Game ini membawa konsep horror survival ke level yang lebih serius di platform yang biasanya identik dengan permainan bocil.

Dirilis Maret 2025 oleh developer indie bernama Grandma’s Favorite Games, game ini langsung jadi viral di TikTok dan YouTube. Berkat atmosfirnya yang mencekam dan gameplay yang mengandalkan kerja sama serta strategi. Pemain bertahan hidup di hutan misterius 99 malam bukan hal yang mudah, apalagi saat malam datang dan monster berkeliaran bebas.
Sementara banyak game di Roblox fokus pada sensasi cepat atau kosmetik lucu, 99 Nights in the Forest justru menantang pemain lewat kesabaran, taktik, dan rasa was-was. Sebuah kombinasi yang nggak umum, tapi justru berhasil mencuri perhatian.
Mekanisme Permainan: Siang Tenang, Malam Mematikan
Gameplay dari 99 Nights in the Forest cukup simpel di permukaan, namun sangat brutal ketika dijalani. Siang hari dimanfaatkan untuk mengumpulkan bahan bangunan, kayu, makanan, dan membuat jebakan. Tapi begitu malam turun, situasi berubah 180 derajat.
Monster misterius bernama The Deer rusa besar dengan mata putih kosong muncul dari kegelapan, menyerang base pemain tanpa ampun. Selain itu, ada juga cultist, sekelompok manusia misterius bersenjata yang ikut bikin malam jadi mimpi buruk.
Satu-satunya cara bertahan adalah dengan membangun pertahanan kuat, membuat api unggun, crafting senjata, dan tentu saja… jangan sendirian. Game ini mendukung mode co-op hingga 8 pemain yang membuatnya sangat cocok dimainkan rame-rame.
Sensasi Horor yang Bikin Ketagihan
Berbeda dari game horor biasa di Roblox yang hanya andalkan jumpscare atau atmosfer gelap, 99 Nights in the Forest menciptakan ketegangan melalui ritme permainan yang dinamis. Makin lama kamu main, makin serem monster yang datang. Setiap malam terasa seperti ujian baru.
Visualnya memang masih bergaya khas Roblox, tapi penempatan suara, efek cahaya, dan desain karakter musuh dibikin se-mengganggu mungkin. Banyak pemain yang bilang game ini ngingetin mereka pada Sons of the Forest versi Roblox.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa Roblox sudah berkembang jauh dari sekadar platform game anak-anak. Game kayak 99 Nights in the Forest membuktikan kalau konten dewasa dan penuh tantangan juga bisa hidup di dalam ekosistem ini. Hal ini sejalan dengan diskusi soal arah platform Roblox yang kini makin terbuka untuk audiens lebih luas, termasuk pengembangan sistem keamanan dan AI filtering.
Kaitan dengan Game Lain dan Tren yang Muncul
Kalau ditarik lebih jauh, kesuksesan 99 Nights in the Forest bisa dibandingkan dengan beberapa game Roblox yang sebelumnya juga memicu kontroversi atau pembahasan lebih dalam soal gameplay. Salah satunya adalah Grow a Garden, game yang sempat disebut “game jahat” karena sistem monetisasinya yang agresif. Bedanya, 99 Nights lebih mengutamakan pada pengalaman survival dari pada mikrotransaksi.
Diskusi tentang kualitas dan arah perkembangan game Roblox seperti ini juga muncul di banyak forum dan media.
Meski genre horor bukan hal baru di Roblox, jarang ada yang sekonsisten ini dalam menghadirkan progres bertingkat dan rasa pencapaian nyata. Ketika berhasil melewati malam ke-30 atau ke-50, pemain benar-benar merasa survive, bukan sekadar lewat level.
Potensi Jadi Game Legendaris Roblox
Dengan rating 91% dari lebih dari 1,1 juta player dan jumlah pengunjung yang terus naik, 99 Nights in the Forest nunjukin tanda-tanda menjadi salah satu game horor survival terkuat di Roblox tahun ini. Gabungan atmosfer, mekanik kooperatif, dan musuh yang mengerikan bikin beda sendiri dibanding permainan Roblox lain di genre serupa.
Di sisi lain, tren seperti ini juga jadi sinyal bahwa komunitas Roblox terus tumbuh. Dari game simpel jadi pengalaman kompleks. Dan di antara semua perubahan itu, platform seperti Main Sony tetap jadi sumber yang sering mengamati bagaimana budaya game online berevolusi lewat eksperimen kreatif seperti ini.
Leave a Reply